KabarIndonesia - Dunia pendidikan memang tak akan pernah habis untuk diperbincangkan karena ia adalah ruh bagi setiap individu, sehingga selama ruh masih melekat pendidikan menjadi hal urgen dalam hidup manusia. Namun ironisnya, banyak anak desa yang menganggap pendidikan bukanlah hal urgen dalam hidup, sehingga semangat berpendidikan pun menjadi rendah. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi pemikiran dan pandangan mereka terhadap arti penting sebuah pendidikan.
Faktor utamanya, bahwa pendidikan tidak mampu mengubah kondisi sosial ekonomi mereka karena tingginya biaya pendidikan. Dan mereka berpandangan bahwa biaya pendidikan yang terus melonjak hanya menjadikan mereka semakin miskin, sehingga mereka lebih memprioritaskan pada bekerja yang secara dhohir dapat menghasilkan uang.
Sebagaimana pengamatan penulis, peristiwa ini terjadi di salah satu pelosok desa, yakni desa Ngadirojo Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo. Sebagian besar mata pencaharian penduduk desa tersebut adalah bertani dan buruh tani. Penghasilan rata-ratanya hanya Rp. 300.000 per bulan, dengan penghasilan yang sangat minim tersebut mereka masih harus mengeluarkan biaya untuk sekolah anak-anak mereka, padahal kebutuhan hidup kian hari kian membengkak tanpa mau tahu nasib penduduk kecil seperti mereka. Sungguh ini adalah beban hidup yang sangat berat bagi mereka.
Di samping itu, sebagian besar pendidik yang bertempat di desa merasa pesimis dan tidak memberikan dukungan serta semangat pendidikan terhadap anak didik sehingga peserta didik pun tidak menganggap penting arti sebuah pendidikan. Bahkan banyak guru yang tidak bersedia untuk ditempatkan di desa, mayoritas ingin di tempatkan di daerah kota dengan alasan yang relatif sama, yakni bahwa desa adalah tempat terpencil yang jauh dari akses berita dunia. Juga gaji yang relatif rendah. Jika sudah demikian, maka apa boleh buat? Kondisi keuangan tidak mendukung, guru pun yang seharusnya mampu menyadarkan mereka akan pentingnya sebuah pendidikan tidak sanggup melakukannya.
Di samping pandangan mereka akan tidak pentingnya pendidikan, sebagian anak desa terpaksa tidak berani bermimpi. Melihat kondisi hidup, pendidikan tinggi adalah hal yang mustahil bagi mereka. Karena untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja masih kurang dari cukup. Lulusan tahun 2000 sebanyak 23 siswa, hanya 5 siswa yang mampu melanjutkan sampai pada tingkat perguruan tinggi. 6 diantaranya memilih untuk bekerja dan 12 yang lain memilih untuk membina rumah tangga. Miris memang melihat kondisi seperti ini, pernikahan di umur yang terlalu muda pun tak bisa dihindari. Walhasil, tidak sedikit perceraian pasca menikah terjadi.
Hal seperti ini tidak boleh diacuhkan. Anak-anak adalah aset negara yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang akan meneruskan estafet perjuangan bangsa. Jika potensi dalam diri mereka dibiarkan begitu saja, maka ini adalah sebuah kebodohan dan kesalahan terbesar. Pemahaman, pemikiran dan pandangan mereka terhadap pendidikan harus diluruskan. Bagaimanapun pendidikan adalah hal yang urgen dalam hidup manusia, karena pendidikan menyangkut martabat setiap orang, bahkan martabat bangsa. Pendidikan bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, akan tetapi ia adalah tanggung jawab bersama. Karena itu sangat diharapkan kerjasama semua pihak untuk bersama memajukan pendidikan Indonesia.
*) Tina Siska Hardiansyah
Mahasiswi UIN MALIKI Malang
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Semester IV
(Sumber Berita: Sumber:http://www.kabarindonesia.com - 18 Februari)