Makassar – Pembinaan terhadap pendidikan anak usia dini berkebutuhan khusus masih terkendala oleh minimnya tenaga guru yang memiliki kompetensi khusus di bidang tersebut.
Hal tersebut dikemukakan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, dalam arahannya ketika membuka Seminar Pemahaman Teknis Untuk Pendidikan Inklusi dan PAUD Luar Biasa di Hotel Horison, Minggu (5/8).
Pertemuan yang berlangsung hingga 9 Agustus 2012 tersebut diikuti oleh guru dan pembina sekolah luar biasa dari sejumlah provinsi di Indonesia.
Dikatakan, kebanyakan guru di sejumlah sekolah inklusi dan luar biasa di berbagai daerah di Indonesia, dituntut membina murid di berbagai tingkatan. Baik anak usia dini, maupun tingkat SDLB, SMPLB,dan SMALB.
“Belum ada spesifikasi yang lebih khusus untuk guru yang membina murid usia dini. Padahal, perhatian yang sangat dibutuhkan adalah di saat usia dini untuk mengidentifikasi lebih awal kekurangan dan potensi anak berkebutuhan khusus. Sebab jika ditangani lebih awal, maka peluang anak bisa normal dan masuk ke sekolah reguler bisa lebih besar,” kata Guru Besar Psikolog ini.
Prof Lydia memberi ilustrasi tentang pentingnya perhatian khusus terhadap anak berkebutuhan khusus. Seorang dosen yang mengetahui anaknya berkebutuhan khusus rela meninggalkan pekerjaan demi merawat anaknya. Dosen tersebut, kini bermukim di Singapura agar anaknya mendapat perawatan khusus.
Dirjen PAUDNI juga mengatakan, hingga saat ini belum ada klasifikasi model pendidikan di sejumlah sekolah luar biasa (SLB) yang ada di Indonesia berdasarkan tingkat usia murid. Selain itu, kepedulian dan perhatian orang tua juga belum optimal.(rusdy embas)
(Sumber Berita: Rusdy Embas)