Dirjen PAUDNI Buka Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD

Dirjen PAUDNI Buka Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD

Lagu Gundul-Gundul Pacul tiba-tiba mengalun di ruangan Alamanda Hotel Aryaduta. Disusul lagu lokal Makassar Angin Mammiri. Yah… begitu cara Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, PSi, menyemangati peserta pertemuan Sosialisasi Kerja Sama Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), di Hotel Aryaduta, Rabu (7/3).
 
Menurut Prof Lydia, lagu Gundul Gundul Pacul memiliki makna yang cukup dalam. Lagu ini mengandung arti, seorang pemimpin adalah orang yang terhormat yang akan kehilangan mahkota jika tidak amanah dalam empat hal. Keempat hal yang dimaksud adalah tidak mampu melihat kesengsaraan rakyatnya, tidak mampu mendengar nasehat, tidak mampu mencium kebaikan, dan tidak mampu berkata adil.
 
Prof Lydia yang mengaku baru sekitar dua pekan memegang amanah sebagai Dirjen PAUDNI Kemendikbud memaparkan kerja sama yang telah dibuat dengan TNI untuk mengembangkan pendidikan anak usia dini di pulau-pulau terluar.
 
“Kita telah membuat kesepakatan dengan TNI untuk pengelolaan pendidikan anak usia dini di 15 titik di Indonesia. Khususnya di pulau-pulau terluar,” kata Prof Lydia.
 
Guru besar psikologi Universitas Indonesia ini menyinggung juga betapa kurang beruntungnya anak-anak, khususnya yang berusia dini, di pedesaan dibandingkan mereka yang hidup di perkotaan.
 
Anak-anak di perkotaan masih mendapatkan buku-buku berkualitas. Bahkan bisa mengakses bahan ajar melalui internet. Sedangkan mereka yang berada di pedesaan tidak bisa mendapatkannya.
 
Kepada mereka yang terlibat dalam pendidikan anak usia dini, Prof Lydia menyarankan agar, memberikan buku-buku yang gambar-gambarnya lebih menarik dan sesuai usia anak-anak.
 
Harapan itu disampaikan karena dalam praktiknya ditemukan masih banyak penyelenggara pendidikan seperti PKBM yang belum melakukan itu.
 
Di sela-sela ceramahnya, Prof Lydia mengabsen peserta pertemuan. “Dimana-dari lembaga kursus? Dimana Himpaudi. Dimana PKK,” kata tanya Prof Lydia sambil mengarahkan pandangannya ke audiens yang memadati ruangan Alamanda Hotel Aryaduta.(rusdy embas)

(Sumber Berita: Rusdy Embas)