Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Lydia Freyani Hawadi Psikolog, membuka Orientasi Teknis (Ortek) Penguatan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Angkatan VIII di Aula Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (BP-PAUDNI) Regional III, di Makassar, Sabtu (30/11).
Pembukaan Ortek yang terselenggara atas kerjasama BP-PAUDNI Regional III dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, dirangkaikan juga dengan pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Analisis dan Penyediaan Data Pemetaan Mutu Satuan PAUDNI.
Sebelum memulai menjelaskan arah kebijakan Direktorat Jenderal PAUDNI, Prof Lydia berjalan menghampiri peserta Ortek sembari memberi pertanyaan kenapa PAUD perlu?
Prof Lydia kemudian menjelaskan bahwa otak manusia bertumbuh pesat di usia tiga tahun. Untuk memaksimalka pertumbuhan itu perlu rangsangan dari luar. Stimulus itu masuk melalui panca indra.
“Potensi anak akan keluar jika dirangsang. Dan ibu sebagai pendidik utama harus berperan aktif,” kata Guru Besar Psikolog Universitas Indonesia tersebut.
Dijelaskan pula bahwa tahun 2000 silam dilakukan Deklarasi Dakar yang menyepakati anak usia 0-6 tahun diberikan layanan pendidikan.
Dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia, menurut Prf Lydia, sebanyak 31,8 juta di antaranya adalah anak berusia 0-6 tahun. Ini harus diberikan layanan pendidikan.
Untuk memberi peluang anak usia dini mendapatkan layanan pendidikan secara maksimal, pemerintah mencanangkan program Satu Desa Satu PAUD. Angka partisipasi kasar PAUD yang dicapai Sulawesi Selatan masih di bawah rata-rata nasional sehingga masih perlu kerja keras.
Dijelaskan juga tentang “PR” besar yang harus diselesaikan sebagai kado 100 tahun Indonesia merdeka. Yakni, Anak Indonesia Harapan.
Usai membuka Ortek, Prof Lydia menyaksikan persembahan Tari Pepe-pepeka ri Makka oleh salah satu sanggar tari dari Kabupaten Gowa. Di sela hiburan, penari mengajak Dirjen PAUDI ke tengah untuk menari bersama. Saat itu, lengang Prof Lydia “dibakar” oleh para penari.***
(Sumber Berita: Rusdy Embas)